Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Maret 2009

Bunuh Diri Remaja... Tak berhargakah hidup dalam derita?


Seorang remaja tanggung datang malam itu, mengantar temannya, seorang anak gadis yang sulit kutebak umurnya.

“Rama, mau konsultasi. Besok khan hari ulangtahunnya dia, tapi dia ini malah ingin mengakhiri hidupnya. Gimana ini, Rama?” dia langsung bicara, bahkan sebelum kupersilakan duduk.
“Enggak kok!” Si gadis kecil menunduk, setengah menyembunyikan wajahnya di sisi bahu sahabatnya. Sepertinya dia enggan bicara, namun pepat juga dada dan kepala menahan gelora hatinya. Tak tahu, untuk siapa kalimatnya, dan entah pula maksudnya.

Aku duduk, dan mereka pun berdua mengikutiku. Senyumku memancingnya untuk bertutur. Semula dia diam, sahabatnya yang memulai pembicaraan. Kutanya, hanya diam dan sembab mata jawabannya. Pelan… dari keengganan dan kebingunan, disusul derai air mata…. Sampai kemudian dia mulai lancar mengkalimatkan bebannya.

Si gadis kecil, yang SMP pun belum lulus tetapi wajahnya menyiratkan pergulatan yang membuatnya lebih matang —aku sempat menanyainya, “Sekarang kuliah, sekolah, atau…?” karena memang susah menebak dari gurat wajahnya— membuka pedih hatinya. Ibu bapaknya bercerai sejak di SD. Si Bapak pergi entah ke mana. Ibu lalu nikah lagi dan meninggalkan anak-anaknya. Kakak-kakaknya tercerai-berai, pergi sendiri-sendiri, dan nyaris tak ada kontak lagi. Ia sendirian, bersama neneknya yang mulai pula ditelan kerentaan.

Dia mengeluhkan, mengapa hidupnya terus menanggung duka di usianya yang masih muda. Ia tak tahan betapa dalam kepedihan itu malahan banyak saudara menyudutkannya dengan celaan. Ia marah pada ibunya, tapi tak rela setiap kali ada saudara yang mencela. Ia tak ingin ada seorang pun tahu masalahnya, maka berusaha selalu tampil ceria, tapi itu mengingkari apa yang bergolak di dalam hatinya. Hidup hanya meniti derita demi derita… Hidup tak lagi berguna, hanya jadi beban saja… Semua sia-sia! Bunuh diri adalah satu-satunya jalan mengakhiri penderitaan dan membebaskan neneknya dari beban, itu saja yang dapat dipikirkan.

Aku mendengarkannya, mencoba turut merasakan kesepian, kesendirian, dan kehampaan yang dituturkannya. Perceraian kedua orangtuanya sudah menjadi beban yang tak mudah dipikul. Lebih berat lagi, ternyata baik bapak maupun ibunya kemudian meninggalkan anak-anaknya; anak-anak dititipkan pada kakek-neneknya. Tak hanya ditinggalkan, tetapi merasa terbuang! Sesudah itu, dalam keterpurukannya, ternyata kakak-kakaknya pun tercerai berai, berpisah dan tak saling komunikasi. Orang-orang yang diharapkan menjadi orang-orang terdekat tidak ada. Kakek yang menjadi pelindung hati dan tulang punggung ekonomi meninggal, suatu kehilangan yang begitu menghampakan. Dia butuh tempat di mana ia merasa berharga dan diterima, tetapi ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Kerabat-kerabatnya menyalahkan kedua orangtuanya yang menelantarkan anak dan ‘membebani’ neneknya dengan tanggungjawab memelihara cucu-cucunya. Kesepiannya semakin mendalam, karena dia merasa harus menyimpan bebannya sendirian jangan sampai masalah keluarganya diketahui oleh teman-teman.

Ia ingin melarikan diri dari masalahnya! Masalah yang silih ganti dan bertambah berdatangan dalam hidupnya dan dia merasa tak kuat lagi menanggungnya. Ia merasa hidupnya tak lagi bermakna, dan seolah tiada artinya kehidupannya di dunia. Tak ada yang akan kehilangan dia kalau meninggalkan dunia ini, bahkan neneknya tak akan lagi terbebani. Dia pun akan terbebas dari semua derita ini.

Aku mengajaknya berpikir, benarkah masalah akan selesai kalau dia bunuh diri? Membunuh diri tak akan menghasilkan kebahagiaan apa-apa, selain menghasilkan kematian belaka. Killing yourself won’t make you happy, it will simply make you dead! Neneknya pun bukannya tak lagi terbebani, tetapi akan menanggung beban baru lagi.

Kuyakinkan pula, bahwa orang yang melarikan diri dari masalah selamanya tidak pernah akan sukses. Kesuksesan tak pernah menjadi hak orang yang melarikan diri dari masalah. Hanya mereka yang berani menghadapi persoalannya, juga kalau keberanian itu membuatnya jatuh dan jatuh, yang akan bisa meraih keberhasilan. Orang yang melarikan diri dari masalah, mungkin tidak merasa jatuh dan gagal, tapi dia tidak mungkin mencapai keberhasilan.

Sekarang bunuh diri, akan mati. Tidak bunuh diri pun, pada saatnya kita semua juga akan mati. Tapi kita bisa memilih kematian kita menjadi kematian yang bermakna dan mulia atau kematian tanpa makna, sia-sia, atau bahkan hina. Usianya baru lima belas tahun, taruhlah misal hidup sampai tujuhpuluh tahun, maka ia masih punya kesempatan hidup limapuluh lima tahun! Lima belas tahun hidup seolah tanpa makna bisa dilanjutkan dengan limapuluh lima tahun hidup penuh makna dan bahagia. Akankah hidup lima belas tahun penuh penderitaan ini diakhiri dengan penderitaan pula! Atau akan dilanjutkan dengan lima puluh lima tahun penuh makna dan bahagia hingga nanti saat mengakhirinya dengan kematian yang mulia?

Aku mulai menyanjungnya, dengan sanjungan tulus atas apa yang tadi dikatakannya, bahwa meski keadaannya seperti ini dia tidak melarikan diri dengan obat-obatan atau pergaulan yang tidak sehat! Aku mengatakan dan meyakinkan dia, betapa dia ini sebenarnya perkasa dan luar biasa. Seorang yang seteguh ini sungguh dibutuhkan untuk masa depan dunia. Mulai tampak sedikit rona pengharapan di wajahnya.

Aku memberi beberapa inspirasi yang mungkin bisa dia buat untuk menolong banyak orang. Misalnya saja dia menuliskan pergulatan hatinya, kemudian menggubahnya menjadi sebuah cerita entah cerita pendek, puisi, novel atau apa yang mengungkapkan pergulatannya. Cerita yang sungguh bertolak dari pengalaman nyata dan mendalam darinya, mungkin akan bisa membuat orangtua berpikir ulang tentang anaknya ketika ingin bercerai dan bisalah itu menyelamatkan keluarganya. Anak-anak muda yang ada dalam pergulatan yang sama dengannya akan mendapatkan keteguhan pula. Kalau penderitaan kita ini dapat berguna untuk keselamatan orang lain, mengapa kita tidak menggunakannya? Bukankah Gusti Yesus itu juga menderita di kayu salib, namun penderitaannya menyelamatkan kita? Mungkin kita bukan orang tersalib, tapi kita juga boleh ikut memikul salib… dan kita pun bisa membuat salib kita berguna demi keselamatan.

Rona wajahnya semakin menyala…

Satu hal lagi kukatakan, sebagai yang terakhir tapi sangat penting untuk kunyatakan: Kalau kamu melakukan semua itu, mengolah sakit-deritamu untuk menyelamatkan orang, hidupmu akan sangat berharga dan bermakna. Pasti derita dan kesulitan hidup tetap ada, tetapi kebahagiaan akan hadir pula, jauh lebih besar dan melingkupi semuanya… Tetapi hidupmu sekarang ini pun, tanpa telah melakukan hal-hal yang akan membuat guna dan makna seperti itu, sekarang ini pun hidupmu ini berharga! Mengapa ada seorang sahabat mengantarkanmu ke sini ketika engkau mengatakan hendak bunuh diri? Kenapa dia tidak diam dan cuek aja membiarkan semuanya terjadi begitu saja? Karena kamu berharga di hidupnya. Mengapa aku mendengarkanmu bercerita dan berusaha meyakinkanmu untuk bukannya mengakhiri hidup tapi melakukan hal-hal yang berguna? Karena aku tahu engkau ini batu permata berharga bagi masa depan banyak anak muda dan bahkan bagi keluarga-keluarga yang lebih tua… Hanya saja permata itu belum bersinar karena belum digerenda dan digosok sempurna! Mengapa Tuhan mengirimmu malam ini ke sini? Karena kamu mutiara berharga dihatiNya, kamu sangat dicintaiNya, dan hidupmu berharga di mataNya! Kamu diselamatkanNya karena kamu dicintaiNya dan kamu dibutuhkanNya untuk berkarya di dunia!

Air matanya meleleh… semoga oleh keharuan bukan oleh derita yang makin dalam!

Aku mengakhiri perjumpaan dengan doa dan berkat, sebab hanya Tuhan yang bisa membuatnya sungguh selamat!

Ia pulang dengan membawa senyuman, meski aku tahu derita tidaklah begitu saja hilang…



...semoga kita teringat untuk tak pernah membiarkan seorang pun anak merasa hidupnya sia-sia, semoga kita semakin menghayati dan membangun hidup penuh makna!

papa tan mengasihi Anda semua!

Senin, 23 Maret 2009

KB Alamiah Meteode Ovulasi Billings, pilihan cerdas keluarga!


Selasa sore, 17 Maret 2009, kami Tim Kerja Kerasulan Keluarga Paroki Pugeran belajar bersama untuk menyiapkan materi Kursus Persiapan Perkawinan. Salah satu tema yang kami bicarakan adalah mengenai Keluarga Berencana Alamiah dengan Metode Ovulasi Billings (MOB). Materi KBA-MOB disampaikan oleh Ibu Srining Sapta, dari Pusat Informasi Metode Ovulasi Billings Jogjakarta.

Satu kesan mendasar: Betapa luar biasa kehidupan!

Berapa tahun lalu, ketika kuliah aku masih berpikir bahwa KBA adalah satu-satunya KB yang diizinkan oleh Gereja Katolik, cara KB satu-satunya yang dihalalkan dan dianggap paling baik oleh Gereja! Tahun-tahun ini, aku berpikir bahwa KBA adalah cara KB yang paling baik di antara semua cara KB. Kali ini aku menjadi yakin, bahwa KBA adalah satu-satunya cara KB yang baik dan benar! Dan Metode Ovulasi Billings merupakan metode KBA yang sungguh handal dan luar biasa!


SEKILAS TENTANG KBA METODE OVULASI BILLINGS

Metode Ovulasi Billings mempunyai falsah HORMAT KEPADA KEHIDUPAN. Dasarnya yaitu mengamati tanda-tanda dan gejala lendir yang secara alamiah terjadi pada servik setiap perempuan dan menjadi pratanda masa subur dan masa tidak subur seorang perempuan. Luar biasanya, ketika lebih dalam dicermati, semakin nyata dahsyat dan istimewanya manusia sebagai ciptaan ini. Secara fisik tubuh ini sungguh mempunyai mekanisme yang luar biasa sempurna. Lebih dahsyat pula, sistem mekanis tubuh ini pun ternyata mempunyai kaitan erat dengan pola emosi manusiawi, dan akan bermakna pula pada aspek relasi.

Sampai sekarang, memang masih banyak orang yang rancu dan ganggam tentang Metode Ovulasi Billings ini dan aneka cara KBA lainnya seperti misalnya Metode Kalender. Metode Ovulasi Billings bukan sistem kalender. KBA sistem Kalender dilakukan berdasarkan hitungan tanggal. Metode Ovulasi Billings adalah suatu sistem untuk menentuakan masa subur seorang perempuan dengan melihat dan merasakan adanya gejala pengeluaran lendir yang tampak/terasa pada saat/hari itu juga.

Metode Ovulasi Billings dilaksanakan berdasarkan hal-hal berikut ini:
• Ovulasi biasanya terjadi satu kali setiap siklus
• Sel telur berada di saluran telur kurang dari 24 jam jika tidak dibuahi.
• Sperma memerlukan lendir yang subur agar dapat hidup.
• Sperma bersama lendir yang subur dapat bertahan hidup selama 3-5 hari.
• Kesuburan tergantung pada ovulasi dan lendir yang baik.
• Menstruasi akan terjadi 11-16 hari setelah ovulasi

Pasangan yang menginginkan kehamilan dapat melakukan hubungan seksual pada saat masa subur. Pasangan yang ingin menghindari kehamilan, jangan melakukan hubungan intim atau kontak alat kelamin pada masa subur. Jadi, metode ini dapat diterapkan untuk tujuan menjarangkan kehamilan, mendapatkan kehamilan bagi yang sulit hamil, bahkan dapat juga untuk merencanakan jenis kelamin anak.

Metode Ovulasi Billings didasarkan pada pengidentifikasian kesuburan/ketidaksuburan setiap hari, yang dialami semua perempuan, baik yang siklusnya teratur maupun yang tidak teratur, atau pun yang siklusnya panjang atau pendek. Perempuan yang proses ovulasinya tidak teratur atau yang tidak mengalami ovulasi sekalipun tetap dapat menggunakan metode ini. Jadi metode ini ternyata dapat digunakan bagi perempuan dengan segala macam siklusnya, antara lain: Siklus yang teratur, siklus yang tidak teratur, tidak mengalami ovulasi, setelah melahirkan, pada saat menyusui, setelah menggunakan alat kontrasepsi, pada saat menjelang menopause, kesuburan yang rendah.


KEUNTUNGAN KBA METODE OVULASI BILLINGS

Dalam brosur yang tentang MOB ini, disajikan daftar keuntungan KBA dengan metode ini, yaitu:
1. Memungkinkan setiap kehamilan direncanakan, termasuk jenis kelamin anak
2. Berdasarkan metode ilmiah
3. Alamiah, tidak memakai alat kontrasepsi atau obat-obat kimia.
4. Dapat sangat diandalkan keberhasilannya (aman)
5. Sehat, tidak ada efek sampingan.
6. Sangat membantu meningkatkan keserasian rohani dan jasmani dalam perkawinan.
7. Ekonomis, mandiri penuh.
8. Sederhana, dapat diterapkan oleh setiap perempuan yang subur.
9. Dapat membantu pasangan yang susah hamil untuk mendapatkan anak.
10. Sesuai dengan ajaran masing-masing agama.
11. Telah diakui Pemerintah Indonesia

Hal yang tak pernah dikomunikasikan tentang KB secara artifisial, baik dengan alat atau pun obat, adalah efek sampingannya. Pengguna atau calon pengguna hanya diberi tahu, obat atau alat ini sejauh mana efektif untuk mencegah kehamilan. Orang tidak diajak mengerti bagaimana dan seperti apakah kerja spiral itu, misalnya. Spiral, sebagai benda keras dan asing dimasukkan dalam rahim yang kecil dan ringkih adalah suatu hal yang sebenarnya sangat membahayakan kesehatan perempuan. Lebih parahnya lagi, penggunaan spiral itu sebenarnya masih memun gkinkan terjadinya pembuahan dan baru kemudian menghalangi kemungkinan nidasi (penempelan zigot pada dinding rahim), sehingga kehamilan tergagalkan. Sebenarnya, dalam proses ini terjadi suatu keguguran (atau bahkan pengguguran!) pada masa awal sekali dari kehamilan.

Orang tidak pernah diajak mendiskusikan, bagaimana penggunaan susuk dan pil itu merupakan manipulasi hormonal dan ketika seorang perempuan dimanipulasi hormonnya, maka hal itu dapat mempengaruhi kondisi fisik dan bahkan psikisnya. Orang hanya diberitahu: yang penting tidak hamil… bahwa secara fisik ada perubahan (bisa kegemukan, pendarahan terus-menerus, atau bahkan menyebabkan penyakit lain termasuk kanker), bahwa secara psikis seringkali ada efek (uring-uringan, kehilangan keceriaan, gairah hidup yang menurun karena produksi hormon berubah!) orang dibodohi jangan sampai tahu! Bahwa gel yang dipakai dalam kondom itu potensial menjadi alergen bagi perempuan, orang tak pernah bicara!

KB Alamiah dalam hal ini sebenarnya jauh lebih unggul karena tanpa efek samping, murah, namun sekaligus sungguh ilmiah. Efektivitasnya pun dahsyat, 99% berhasil untuk kepentingan menghindari atau menunda kehamilan. 1% potensi gagal itu adalah karena kurang disiplin saja dalam pelaksanaannya. Cukuplah konsultasi dan pendampingan selama 3 siklus kesuburan (sekitar 3 bulan), kemudian segalanya bisa dijalankan secara mandiri.

Orang sering berpikir bahwa KB Alamiah itu ‘ribet’ banyak repotnya karena harus selalu hitung-menghitung yang mungkin tidak tepat (ini bukan Metode Ovulasi Billings, tetapi metode kalendar, yang memang sekarang disadari banyak kelemahan baik efektivitas maupun metodenya). Orang sudah lebih dahulu merasa malas berpantang, seolah pantang itu terlalu lama, padahal kalau tahu persis metodenya sebenarnya tidak lama-lama amat. Pencatatan harian seringkali dipandang merepotkan, padahal sebenarnya pencatatan itu begitu sederhana dan satu hari cukup mencatat satu kali saja! Ini tidak lebih repot daripada setiap kali lapar kita harus makan (sekali makan butuh waktu lebih lama, apalagi kita makan tak cukup sehari sekali!)

Yang pasti dan itu tidak ada di dalam sarana KB lainnya adalah: KBA itu memutukan relasi suami isteri. KBA selalu mengandaikan adanya komunikasi dan tanggungjawab bersama suami isteri. KB bukan hanya melulu tanggungjawab istri; sementara suami seolah tinggal terima jadi. Selain itu, pengenalan siklus kesuburan sebenarnya sangat efektif pula untuk meningkatkan mutu komunikasi. Mengapa? Karena siklus kesuburan ini berhubungan erat dengan kondisi psikis seorang perempuan. Ada kondisi-kondisi emosional perempuan yang khas pada saat ia subur, pada saat menstruasi dan saat menjelang atau sesudahnya, dll. Kalau hal ini dikenali dan diperhatikan oleh pasangannya, sungguhlah ini sangat berguna untuk menentukan metode dan saat berkomunikasi. Mereka yang menjalankan KBA akan mengalami hal ini dan makin lama akan semakin peka menyadarinya.

Selain itu, bagi penganut agama tertentu, Katolik misalnya, KBA ini tidak menimbulkan problematika iman apa pun.

Hal menarik adalah bahwa orang yang sering mengeluhkan KBA itu bukan mereka yang menjalankannya tetapi orang yang sama sekali tidak pernah mencobanya atau sebentar saja mencobanya dan itu pun tanpa pengetahuann yang cukup. Mereka yang menjalankan KBA-MOB dengan pengetahuan yang benar bisa dibilang tidak pernah mengeluhkan bahkan punya banyak kesaksian indah atas apa yang dilakukan.

Betapa luar biasanya kehidupan ini! Ada hal yang begitu rumit dan sempurna, tetapi sekaligus bisa dimengerti dengan sederhana… dan sungguh berdaya guna! Penciptaan manusia ini sungguh luar biasa, semakin kita mencoba mengenalinya, semakin terasa istimewa dan dahsyat karyaNya; karya luar biasa yang kadang kita lihat sekilas tampaknya sekedar biasa-biasa saja.


TANTANGAN NYATA: BENTURAN DENGAN KEPENTINGAN LAIN

“Ini lagi… kegagalan Billings!” Seorang dokter berteriak demikian memberitahu Bu Srining Sapta, di hadapan banyak orang, seolah mengumumkan di hadapan umum bahwa MOB tidak efektif, ketika ada seorang ibu yang konsultasi pada dokter itu dan mengaku gagal KB menggunakan Metode Ovulasi Billings. Ada rasa seolah dipermalukan di depan umum, tapi Bu Srining Sapta pun tetap tenang. Ia bertanya pada pasien dokter itu, “Ibu menggunakan KBA?” Ibu itu menjawab ya. “Dengan Metode Ovulasi Billings?” Dia pun kembali menjawab ya! “Boleh saya lihat catatannya, mana?” Dan ibu itu menjawab, “Saya tidak mencatatnya!” Lalu Bu Srining pun mendekati dokter itu, “Orang tidak bisa mengatakan menggunakan Metode Ovulasi Billings kalau dia tidak membuat catatan hariannya. Bagaimana bisa dipastikan dia tidak melakukan hubungan pada saat subur, kalau hanya berdasar ingatan saja… Ini tidak bisa membuktikan kegagalan MOB!” Dokter itu pun bungkam, karena memang secara ilmiah demikian.

Itu tadi adalah sepenggal kisah, bagaimana seorang dokter seolah menemukan kebanggaan ketika ada ‘bukti’ kegagalan KBA. Lazim orang-orang medis ini, baik dokter maupun bidan, yang mengatakan, “Impossible menghindari kehamilan tanpa alat apa-apa!” Benarkah itu tidak mungkin? KBA dengan Metode Ovulasi Billings bukan mengandalkan sugesti belaka! Ini melewati kerja keras penelitian selama 40 tahun, dan hasilnya pun sungguh ilmiah.

Yang pasti adalah bahwa KBA ini tidak mendatangkan duit bagi pelayannya: baik dari pemakai maupun dari penyedia alat-alatnya. Wajar saja, kalau mereka yang mempromosikan dan mendapat uang dari KB artifisial akan berperang melawan kampanye KB Alamiah ini. Semua butuh dan senang duit! Bidan pemerintah butuh kredit point dengan mencari akseptor KB, dan itu tidak termasuk untuk KBA. Meski pemerintah secara nasional mengakui KBA Metode Ovulasi Billings ini termasuk sarana KB yang diakui, tetapi faktanya di lapangan bisa lain, ada Kabupaten-Kabupaten tertentu yang tidak mau mengakuinya.

Promosi KB Alamiah memang berhadapan dengan ‘mafia’ besar yang menolaknya karena berbenturan dengan kepentingan mereka. Dan ini sungguh berat! Siapa sih yang tidak percaya ketika dikatakan bahwa KBA itu impossible, kalau yang mengatakannya itu seorang bidan atau seorang dokter? Mereka mempunyai kompetensi untuk bicara tentang itu, tetapi kata-kata ini muncul bukan dari kompetensinya melainkan dari kepentingannya! Yah… ujung-ujungnya duit juga! KBA itu tidak mendatangkan duit.
Saatnya kita mengajak masyarakat untuk berpikir cerdas! Kalau ada metode yang efektif, murah (bahkan bisa dibilang gratis), dan tanpa efek sampingan, mengapa memilih yang mahal, banyak efek sampingannya, bahkan efektivitasnya pun meragukan di sana-sini? Kalau ada cara-cara yang lebih menjunjung martabat kemanusiaan dan memajukan kesetaraan laki-laki dan perempuan, kenapa memilih cara-cara yang merendahkan harkat kemanusiaan dan melanggengkan subordinasi perempuan? Kalau ada metode KB yang bukan hanya bisa ‘menghalangi kehamilan saja’ tetapi sungguh bisa mengaturnya dan bahkan berguna untuk meningkatkan mutu komunikasi suami isteri, mengapa tidak memilih yang ini.

[Ctt: Bila Anda berminat, silakan hubungi Pusat Informasi Metode Ovulasi Billings (PUSIMOB) Jogjakarta. Perum UPN Kav. 38, Kregan-Wedomartani-Ngemplak-Sleman. HP 081 328 007 629]

Semoga berguna dan menjadi berkat bagi Anda dan keluarga,
Salam kasih dan doa
Papa Tan

Senin, 02 Maret 2009

Masalah Keluarga

Minggu, 1 Maret 2009, Tim Kerja Kerasulan Keluarga Paroki Pugeran-Yogyakarta mengadakan rekoleksi bertema "Belajar Menjadi Rasul Keluarga. Pengisi rekoleksi adalah Rm Yohanes Aristanto Hari Setyawan, MSF dari Komisi Pendampingan Keluarga KAS.

Sebuah data dipaparkan oleh Rm Aris: Masalah Pokok dalam keluarga modern ini, berdasar survey adalah:
  • 35% - Ketidakdewasaan pribadi
  • 29% - Ekonomi
  • 12% - Pihak ketiga
  • 12% - Anak-anak bermasalah: cacat, sakit, nakal, dll.
  • 12% - Lain-lain (kecanduan, judi, kekerasan, dll)
Orang sering berpikir, bahwa pihak ketiga adalah pemicu paling parah dari aneka persoalan keluarga, namun ternyata kedewasaan pribadi yang kurang berkembang justru menjadi soal paling banyak dan menjadi akar bagi tumbuhnya masalah-masalah lain.

Ketidakdewasaan pribadi ini seringkali tampak dalam sikap-sikap:
  • menuntut: segalanya harus begini atau begitu
  • tidak menerima dan menghargai: membanding-bandingkan dengan orang lain, cepat mencela, serba tidak puas.
  • keunikan pribadi: hal-hal yang menjadi sifat-sifat dan saling benturan, misalnya saja yang satu kelewat tertib sementara pasangannya sangat tidak tertib akan membuat keduanya saling tersiksa, dll.
  • melindungi "privasi": tidak berani menyerahkan atau memberitahukan pendapatan atau pengeluaran yang sesungguhnya kepada pasangan, menyimpan rahasia untuk hal yang seharusnya tak dirahasiakan, dll.
  • menyimpan luka: luka-luka batin yang tak tersembuhkan sering menjadi sebab dan akar orang banyak 'melukai' pasangan.
Menjadi rasul keluarga, pertama-tama dibutuhkan kesediaan untuk menjadi teman di dalam kesulitan, bukan pertama-tama solusi tetapi relasi. Memanglah, belajar itu penting. Untuk menjadi rasul-rasul keluarga orang harus mempunyai dasar-dasar yang secukupnya mengenai ajaran Gereja tentang keluarga: hukum-hukum perkawinan, moralitas perkawinan, dan wawasan pastoral. Sebab, seluruh arah pendampingan memang harus berorientasi pastoral: sesuai ajaran dan iman kita. Akan tetapi, kemampuan ini toh akan dapat dipelajari kalau orang mau belajar dan berproses. Kalau orang sudah menghindar dan tidak mau, ya tak mungkinlah orang merasul.

Pesan Pastor Paroki di akhir acara: "Yang dibutuhkan untuk menjadi rasul-rasul keluarga bukanlah keluarga yang sempurna tetapi keluarga yang bersedia..., bersedia berproses memperbaiki keluarganya sendiri, bersedia menjadi teman bagi keluarga lain, bersedia bekerjasama dalam jaringan dengan anggota tim yang lain. Kalau ingin yang menjadi rasul keluarga adalah keluarga yang sempurna, tunggulah sampai nanti ada di surga baru akan ada yang menjadi rasul keluarga.... tapi jangan berharap akan sampai ke surga kalau tidak mau merasul di dunia! Kerasulan keluarga adalah salah satu tempat dan sarana kerasulan kita... dan kami menanti Anda untuk mau merasul bersama!"



Salam kasih
papa tan

Sabtu, 28 Februari 2009

NYANYIAN CADEL Yang Begitu Indah...



Rabu malam, aku berbincang sama Yudist & Esthi, di teras belakang Pastoran, dalam udara yang dingin-dingin menusuk membuat perut terasa lapar (syukurlah makin terdukung untuk hayati puasa, jadi terasa bener kalau Rabu Abu hari puasa ketika dingin dan lapar, hehehehe…), hanya ditemani teh hangat yang belum lima belas menit terhidang telah habis! Kami masih asyik dengan obrolan yang kurang dua teman (Yustin masih pusing, Yayie katanya telat tapi tak datang sampai kami pulang), tentang mimpi yang sudah berubah menjadi kerinduan, pun telah menjalani paruh akhir fase cita-cita, dan kini menginjak ke awal metamorfosa menjadi rencana…. preschool atau kelompok bermain yang kita gagas.


Ketika berbincang tentang bagaimana nilai religiositas ditanamkan, sampailah perbincangan mengenai dalamnya kesan nada dalam membentuk rasa. Dan Esthi-Yudist berprihatin mengapa anak-anak sekarang ini sangat hafal lagu-lagu percintaan namun nyaris tak pernah mendendangkan lagu-lagu rohani. Kami berkontemplasi tentang tempat bermain, yang ketika anak-anak datang sudah disambut dengan lagu-lagu rohani kanak-kanak yang membuat mereka berdendang senang, yang saat-saat istirahat juga membuat mereka bergoyang riang, dan saat pulang pun ditelinga masih terngiang… Sempat kepikir, belum pemikiran mendalam, baru obrolan santai saja, mungkin kita memilih menanamkan religiositas lewat nada dan cerita!


Esok harinya, aku memberkati jenazah Mbah Pujo di Bangunjiwo (Klo ada yang kenal, itu Mbah De Miss Tya atau Eyange Sekar). Aku dijemput oleh keluarga, yang memang berombongan satu mobil. Tentang rombongan inilah cerita itu: seorang anak kecil, Daniel namanya, mengaku klas TK-A! Sepanjang perjalanan, di mobil kami ini diperdengarkan lagu-lagu rohani…. Dan Daniel ternyata hapal betul dengan lagu-lagu itu. Dengan suaranya yang masih cadel, dia mengikuti nyanyian di tape mobil itu dan nyaris semua lagu dia hapal! Sebagian besar lagu-lagu itu memang lagu kanak-kanak, dan Daniel sangat menikmatinya. Tapi beberapa lagu rohani yang bukan khas anak-anak pun, dia enjoy mendendangkannya!


Aku langsung teringat pembicaraan semalam dengan Esthi… Ternyata ada Es…. Seorang anak kecil, yang masih cadel suaranya, menghapal sekian banyak lagu rohani, dan menikmati sekali saat menyanyikannya. Gila…. Aku benar-benar terpesona oleh suasana yang tercipta saat mendengar keriangan nyanyian yang tergema dalam dendang riang Daniel dengan suara cadelnya! Ternyata ada… dan kita akan membuatnya: semakin banyak!


Hanya ini Tuhan…pelmohonanku

Telimalah Tuhan… pecembahanku

Pakailah hidupku cebagai alatmu

Seumul hidupku…